Minggu, 25 Oktober 2015

Dampak Kemiskinan Terhadap Perempuan Dan Anak



Apa yang kita ketahui tentang kemiskinan? keadaan yang bagaimana? Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, rumah, pendidikan, ataupun kesehatan. Kemiskinan disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolutdan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari."[1] Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.[1] Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Masalah kemiskinan seakan sudah menjadi hal yang biasa kita dengar di Indonesia. Masalah kemiskinan ini mempengaruhi banyak hal, pengangguran, kriminalitas, dan yang tidak kalah penting kemiskinan berdampak pada perampasan hak-hak anak dan perempuan. Bukan hal asing lagi jika kita melihat anak-anak usia sekolah atau bahkan usia prasekolah harus berjuang hidup di jalan-jalan protokol di Indonesia. Tidak jarang diantara anak-anak tersebut terpaksa putus sekolah. Semua itu mereka lakukan atas alasan ekonomi, demi membantu orang tua mereka. Hal ini sangatlah memprihatinkan, karena kemiskinan yang menimpa anak-anak akan menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap perkembangan anak-anak itu sendiri.
Kemiskinan anak perlu mendapat perhatian serius. Kemiskinan anak terpapar dalam informasi besarnya anak-anak terlantar, anak-anak gelandangan, putus sekolah, gizi buruk, prostitusi anak, anak diperdagangkan dan anak dipekerjakan. Anak-anak yang dipaksa ikut masuk ke dunia kerja, anak jalanan dan mereka yang diperdagangkan adalah potret anak-anak miskin. Upaya penghapusan kemiskinan belum mampu menyentuh akar permasalahan kemiskinan sehingga anak ikut dibebaskan. Padahal dampak buruk yang diderita anak karena kemiskinan jauh lebih memprihatinkan.
Putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan sudah pasti merupakan salah satu dampak kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan rakyat miskin putus sekolah karena tak lagi mampu membiayai sekolah. Putus sekolah dan hilangnya kesempatan pendidikan akan menjadi penghambat rakyat miskin dalam menambah keterampilan, menjangkau cita-cita dan mimpi mereka. Ini menyebabkan kemiskinan yang dalam karena hilangnya kesempatan untuk bersaing dengan global dan hilangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Kesehatan sulit untuk didapatkan karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari akibat kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya pengobatan yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat miskin. Ini menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar.
Buruknya generasi penerus adalah dampak yang berbahaya akibat kemiskinan. Jika anak-anak putus sekolah dan bekerja karena terpaksa, maka akan ada gangguan pada anak-anak itu sendiri seperti gangguan pada perkembangan mental, fisik dan cara berfikir mereka. Contohnya adalah anak-anak jalanan yang tak mempunyai tempat tinggal, tidur dijalan, tidak sekolah, mengamen untuk mencari makan dan lain sebagainya. Dampak kemiskinan pada generasi penerus merupakan dampak yang panjang dan buruk karena anak-anak seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapat pendidikan, mendapat nutrisi baik dan lain sebagainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi penerusnya.
Terampasnya hak dasar anak ini menyebabkan proses tumbuh kembang anak tersebut selanjutnya terhambat. Sulit membayangkan anak-anak yang sejak dini sudah bekerja di jalanan akan berkembang lebih baik di masa-masa berikutnya. Kemiskinan bagi anak-anak akan membawa sejumlah konsekuensi negatif, antara lain terhambatnya pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif (antara lain kemampuan membaca), dan terganggunya fungi sosio-emosional yang menyebabkan penyimpangan perilaku dan depresi (Hill & Sandfort 1995, Korenman et al 1995).
Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan juga kemungkinan akan mengalami penyalahgunaan secara fisik oleh orang tuanya yang hidup dalam lingkungan yang penuh tekanan akibat kesengsaraan secara ekonomi (Conger & Elder 1994, McLanahan & Sandefur 1994, Kruttschnitt et al 1994). Kemiskinan membawa kemunduran secara signifikan bagi anak. Kehidupan yang layak susah untuk diraih pada kondisi miskin. Kemiskinan sering menjadi lingkaran setan yang serius bagi kelangsungan hidup anak. Bahkan, mereka pun akan kehilangan akses untuk mendapatkan penghidupan yang layak yang pada gilirannya akan semakin menambah beban ketergantungan kepada orang lain (Zill 1993, Duncan et al 1994, McLanahan & Sandefur 1994). Implikasinya, dengan tingginya tingkat deprivasi ekonomi yang dialami anak-anak akan menyebabkan lestarinya kemiskinan ketika mereka dewasa nantinya (bdk. Teddy Lesmana, 2008). 
Upaya pengurangan kemiskinan juga harus difokuskan pada anak-anak dengan menyediakan sarana sosial dasar (pendidikan dan kesehatan gratis) dengan kualitas yang baik bagi anak-anak yang merupakan kunci bagi mereka untuk membangun fondasi dasar mereka dalam rangka menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat dan juga untuk menjamin kualitas generasi penerus keberlangsungan dan keberlanjutan hidup bangsa ini.
Bukan hanya anak saja tetapi kemiskinan juga menjadikan perempuan sebagai korban. Perempuan dan Persoalan kemiskinan bukan lagi hal yang baru di dengar, kaum perempuan adalah kelompok rentan untuk menjadi korban kejahatan dan bermula dari persoalan kemiskinan ini. Istilah kemiskinan muncul ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu. Membicarakan kemiskinan dan keterpinggiran kaum perempuan di masyarakat mengingatkan kita pada fakta bahwa dalam sejarah tertentu di masa lalu kaum perempuan pernah menjadi kaum yang produktif dalam menyusun surplus ekonomi bagi masyarakatnya, termasuk mendapatkan perlakuan setara dengan laki-laki.
Tidak dipungkiri bahwa realitas kemiskinan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan makhluk sosial yaitu perempuan. Wajah kemiskinan adalah wajah perempuan, demikian kesimpulan beberapa analis sosial. Jika kita telusuri lebih jauh, kondisi kemiskinanlah yang merupakan penyebab menyeruaknya kasus-kasus ketertindasan dan kekerasan terhadap kaum perempuan. Kemiskinan adalah bentuk kekerasan struktural negara terhadap masyarakat. Mata rantai penindasan ekonomi yang paling ujung adalah kaum perempuan. Ketertekanan ekonomi dalam keluarga membuat sang suami tertekan, biasanya sang istri yang menjadi sasaran dari ketertekanan tersebut.
Mengapa perempuan selalu menjadi korban dari tindak kekerasan? Apakah faktor kemiskinan menjadikannya rentan menjadi korban kekerasan? Awam sering menganggap bahwa hal ini terjadi karena perempuan secara psikologis dan sosiologis berada pada sisi marjinal yang membuatnya menjadi rawan untuk menjadi bulan-bulanan tindak kekerasan dari kaum yang lebih memiliki kekuasaan dan kendali.
Mengapa perempuan selalu berada dalam relasi yang rawan kekerasan utamanya dalam rumah tangga, antara lain karena ketergantungan nafkah. Terlepas dari sisi kepribadian perempuan yang lemah yang dianggap sebagai faktor resiko. Faktor determinan yang menyebabkan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan sangatlah kompleks. Hal ini timbul karena kombinasi dan interaksi berbagai faktor antara lain faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politis, seperti riwayat kekerasan dan kemiskinan.
Masalah lain yaitu, masalah perdagangan perempuan Fenomena trafficking (perdagangan manusia) berkaitan dengan adanya perempuan yang diperdagangkan dan menjadi korban diperjualbelikan sebagai pekerja seks komersial, pembantu rumah tangga, pengemis, pengedar narkoba, dan bentuk lain dari ekploitasi kerja. Faktor utama penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan orang adalah persoalan ekonomi dan kemiskinan. Akibat semakin mahalnya kebutuhan hidup sehari-hari maka perempuan banyak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. Selain itu ada juga beberapa faktor yang menyebabkan perempuan menjadi korban : 
  • Keinginan untuk secara cepat mendapatkan uang atau kerja yang mudah dan tidak terlalu berat.
  • Keinginan mengikuti perkembangan modern serta gaya hidup yang konsumtif.


Jadi, sebenarnya dampak kemiskinan itu beragam tetapi sekarang yang menjadi fokus kita adalah korban seperti anak dan perempuan. Karena anak adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya kita jaga dan kita kembangkan kemampuannya atau ilmunya agar ia dapat bermanfaat bagi kehidupannya sendiri maupun bagi pembangunan negara tempat ia tinggal. Dan perempuan juga juga harus dilindungi bukan dijadikan korban dari kemiskinan, karena sesungguhnya hakikat seorang perempuan itu adalah makhluk yang tuhan ciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki bukan untuk ditindas atau dijadikan sasaran kekerasan tetapi melainkan untuk selalu dilindungi. Jika korban dari kemiskinan ini dapat di selamatkan dan sesungguhnya bisa saja mereka pula lah yang membantu negara untuk menghilangkan permasalahan di negara. Generasi penerus adalah investasi yang paling baik untuk negara tersebut.